Paranoia, Siapa yang Kamu Percaya? : Sebuah Interview bersama Riri Riza


DINA (36) adalah seorang wanita yang hidup dalam ketakutan. Dia melarikan diri dari suaminya yang kasar, GION (45) dan sekarang tinggal di Bali bersama putri remaja mereka, LAURA (17). Ketakutan Dina pada Gion membawanya menjadi semakin paranoid dan overprotektif terhadap Laura. Sedangkan Laura merasakan ibunya mengalami delusi, terutama karena sekarang ayahnya ditahan di penjara sebab kejahatan yang dia lakukan. Saat pandemi Covid-19 mereda, pemerintah Indonesia membebaskan sejumlah narapidana untuk memperlambat penyebaran Covid-19 di lembaga pemasyarakatan. Gion adalah salah satunya yang dibebaskan. Dina panik. Dia tahu pasti Gion akan memburunya, bukan hanya karena dia akan mengambil putri satu-satunya, tapi dia juga membawa pergi patung antik Gion yang berharga.



Film terbaru Riri Riza karya Miles Films yang berjudul Paranoia baru saja melakukan world premierenya di Bucheon International Fantastic Film Festival 2021, Korea Selatan. Film ini merupakan film pertama Riri Riza yang bergenre thriller. Riri Riza dan Mira Lesmana adalah sutradara dari Kuldesak (1999), salah satu film penting Indonesia yang mengiringi Manifesto I Sinema pada era Soeharto di Indonesia. Paranoia merupakan kolaborasi mereka sebagai sutradara dan produser untuk kesekian kalinya.

Paranoia diproduksi saat pandemi pada November 2020. Sebagian besar persiapan dilakukan secara online, dan syuting dilakukan di lokasi tertutup khusus untuk produksi Paranoia. Kami berkesempatan berbincang dengan Riri Riza. Riri berbicara tentang tantangan memproduksi Paranoia selama pandemi ini dan bagaimana dia belajar banyak hal selama produksi film ini, termasuk bagaimana dia menyiapkan sesuatu dengan sangat detail.


Apa yang membuat Anda menulis Paranoia?

Sebenarnya, pada bulan April hingga Mei 2020 kami semua berhadapan dengan kegelisahan yang luar biasa. Tentang situasi kehidupan kita di masa itu. Saya bersama sahabat saya dan partner saya, Mira Lesmana, dia adalah produser dari Miles Films dan produser dari semua film yang pernah saya buat selama lebih dari dua puluh tahun ini, sebenarnya juga memiliki beberapa rencana produksi film. Tetapi kami melihat bahwa situasi ini tidak akan begitu cepat bisa pulih. Maksudnya, protokol kesehatan, kondisi masyarakat yang terdampak pandemi ini akan berlangsung lebih panjang dan lebih penuh dengan ketidakpastian. Karena dua film yang kami rencanakan akan kami produksi itu adalah film-film besar, kami merasa bahwa terlalu beresiko apabila menunggu atau menjalankan produksi tersebut di dalam kondisi masyarakat atau Indonesia seperti sekarang. Pada saat itulah kami sebenarnya sebagai pembuat film melakukan diskusi-diskusi, melakukan pengamatan-pengamatan terhadap apa yang terjadi, dan sebenarnya kami terinspirasi dengan perasaan-perasaan ketakutan itu sendiri. Saya bersama Mira sudah lama ingin membuat film yang berbicara tentang, atau lebih bereksperimentasi dengan genre atau bentuk film yang berbeda. Berbeda dalam arti sedikit menjauh dari tema ataupun  penceritaan drama yang selama ini menjadi karakter dari film-film saya. Kami mencoba menjelajah ke wilayah lain. Nah, Perasaan ketakutan itu rupanya ada muncul di masyarakat dan cerita Paranoia, cerita tentang Dina; seorang perempuan yang berhadapan dengan masa lalunya ini, adalah cerita yang menginspirasi kami dari berita-berita yang kami baca di media-media. Dimana pemerintah harus mengambil keputusan-keputusan ekstrem, sekian banyak keputusan cepat dalam menghadapi situasi pandemi. Jadi ini adalah film yang terinspirasi dari peristiwa-peristiwa nyata yang terjadi yang kami baca dalam keadaan isolasi di rumah, dalam keadaan harus melakukan karantina di rumah di masa pandemi ini. Dan cepat sekali proses itu berlangsung, dan semuanya berlangsung dalam waktu yang tidak terlalu lama, kami berhasil tuliskan dalam bentuk ide cerita film.


Apa hal yang berbeda yang ditawarkan oleh film Paranoia dibanding dengan film Anda sebelumnya?

Intinya, di dalam film ini saya berhadapan dengan naratif yang sangat tepat ya. Peristiwanya itu hanya terjadi di suatu ruang yang tidak begitu besar, di sebuah lingkungan yang terkurung. Ini adalah sebuah kondisi yang sebenarnya memaksa saya untuk memastikan dan memanfaatkan semua elemen cerita yang ada di lingkungan itu saja. Kami punya subjek atau karakter yang tidak banyak, kami punya dunia cerita yang terisolasi, tertutup, dan juga sedikit waktu. Jadi seperti time-limit, seperti waktu mengejar pekerjaan ini . Mungkin saya pernah melakukan pekerjaan ini pada satu atau dua cerita yang saya buat sebelumnya, tetapi ini adalah film yang kemudian menjadi istimewa bagi saya dan akan lama saya kenang karena merupakan pertama kalinya saya juga bereksperimen atau tepatnya mencoba memasuki dan menjelajahi film genre thriller, drama thriller dan sedikit sentuhan aksi, yaitu sedikit sentuhan laga gitu ya, apa ya, stunt and action.

Sejauh pengamalan Anda membuat film, adakah suatu hal yang membuat Anda berasa berbeda ketika menulis /menyutradarai “Paranoia”?

Saya rasa yang sangat berbeda mungkin adalah saya sedikit lebih kalkulatif mungkin ya. Kami harus sangat kalkulatif karena kami memproduksi film ini juga dalam kondisi pandemi. Kami menciptakan bubble, sebuah lingkungan yang tertutup. Semua orang yang terlibat dalam produksi ini harus mengikuti prosedur protokol kesehatan yang tepat. Semua orang melakukan tes PCR, kemudian tidak boleh keluar, tidak boleh berinteraksi dengan lingkungan luar, dan pada saat yang sama juga saya mencoba sangat disiplin dalam pola-pola penyutradaraan film seperti setting, cinematography, editing, dan suara. Saya betul-betul memperhitungkan kamera sedang mewakili mata siapa. Hampir tidak ada gerakan kamera yang tidak termotivasi oleh karakternya. Ini adalah film yang sangat ketat dalam penceritaan dan saya rasa dengan hanya praktis tiga karakter utama, film ini mencoba bercerita dan menarik penonton masuk ke dalam dunia cerita yang sangat pelan. Mungkin kalau saya coba mengingat-ingat, sedikit mengingat perasaan saya ketika membayangkan Alfred Hitchcock membuat film horror atau membuat film-film thriller klasiknya di tahun 1940-1950an. Saya bekerja sama dengan seorang DoP yang sudah biasa bekerja di film-film Asia Tenggara yang cukup baik dan terkenal namanya Teoh Gay Hian. Hian memberi saya banyak pengetahuan baru tentang bagaimana kita bisa betul-betul memastikan semua elemen gambar di dalam film itu punya makna dan menggambarkan atau mendorong drama atau mendorong perkembangan tokoh dalam film itu. Itu contoh-contoh diskusi yang terjadi saat membuat film ini, saya rasa ini adalah pengalaman yang sangat baru bagi saya. 

Bagaimana proses produksi film ini? Apakah semua aktor dan kru dikarantina?

Saya rasa sangat menyenangkan ya. Karena misalnya kami pergi ke lokasi shooting itu, praktis hanya berjalan kaki dari hotel sampai ke lokasi. Kami hanya menggunakan sedikit sekali elemen lokasi di dalam cerita. Tetapi lokasi cerita ini juga sebuah landskap yang cantik, yang sangat istimewa dengan warna tropis yang kuat dan warna mataharinya juga bagus. Kemudian saya juga bisa menciptakan ruang-ruang yang sangat purposeful, karena lingkungannya juga sangat ketat gitu. Pada saat yang sama, semua orang yang bekerja mungkin sekali terisolasi karena semua sudah sangat diperhitungkan karena kita tidak perlu pergi ke tempat-tempat lain. Ada satu dua lokasi yang berada di luar lokasi utama tapi semua dalam jangkauan kendaraan. Kita punya disiplin yang sangat ketat, setiap kru memiliki kendaraannya masing-masing, setiap kru memiliki very simple alat makannya masing-masing, tidak bertukar dengan orang lain. Kami menggunakan botol minum milik kami sendiri. Yaa, sangat menyenangkan ya, tetapi pada saat yang sama ketika bubble sudah tercipta, pada saat yang sama juga sebenarnya kami cukup bebas. Jadi mungkin apabila di Jakarta saya bekerja 80 persen dalam sehari, itu saya harus menggunakan masker. Tetapi ketika saya bekerja di dalam bubble di lokasi shooting yang terletak di pinggir laut ini, kita sehari hanya pakai masker sebentar saja. Hanya ketika kita sedang berada di dalam kendaraan saja, atau sedang berada di tempat yang kebetulan kita harus berada di dalam ruangan yang sempit. Selebihnya, ketika di luar, kami sangat rilek dan terbuka. Ini adalah pengalaman yang menyenangkan.

Apa saja tantangan dalam produksi film ini, di masa pandemi begini?

Saya rasa tantangan utama adalah ketidakpastian distribusi. Tentu saja cerita yang ditulis pun adalah cerita yang harus peka dan membayangkan kemungkinan-kemungkinan protokol kesehatan. Kami harus memperhitungkan betul, lokasi shooting tidak boleh terlalu banyak dan kalau bisa juga tempatnya yang secure, tidak terbuka. Itu adalah pola menulis cerita yang menggunakan keterbatasan sebagai bagian dari imajinasi. Tetapi yang paling menantang adalah ketidakpastian dalam distribusi film menurut saya. Karena walau bagaimanapun, sebuah film atau sinema itu harus diputar di dalam ruangan bioskop.  Tapi sekarang praktis kita belum bisa membayangkan kondisi dimana bioskop bisa dibuka kembali secara penuh, apalagi di Indonesia.

Apa hal terpenting yang telah Anda pelajari tentang diri Anda dan kekuatan Anda, setelah menyutradari “Paranoia” dalam masa pandemi ini?

Saya sangat yakin bahwa jika kita mau, kita bisa bercerita dalam kondisi yang sangat terbatas. Saya percaya betul bahwa saya bisa melakukan itu. Saya bisa menemukan cerita-cerita yang terjadi di ruang-ruang yang sempit yang sebenarnya juga bukan sebuah hal yang baru. Sudah banyak dilakukan di dalam sejarah sinema. Saya juga pernah mengalaminya ketika bekerja pada film Atambua, 39° Celcius (2012). Ketika saya membuat film perjalanan tentang dua orang, Ambar dan Yusuf di dalam film Tiga Hari untuk Selamanya (2007) misalnya, atau membuat cerita tentang ibu dan anak yang bertemu kembali di kota besar seperti dalam film Eliana, Eliana (2002). Saya ternyata punya kekuatan untuk bercerita di dalam keterbatasan ruang dan juga keterbatasan waktu. Saya menikmatinya, saya sangat menikmatinya. Itu salah satu hal yang saya pelajari dan menikmati betul ketika saya memproduksi film Paranoia.

Apa hal spesial dari Caitlin North Lewis, sehingga Anda memilihnya untuk memerankan karakter Laura?

Caitlin adalah seorang gadis yang sebenarnya di dalam cerita ini menggambarkan kegelisahan ketika ia terkungkung. Seorang remaja yang hidup dalam usia menjelang kedewasaan, punya banyak sekali pertanyaan, punya banyak sekali kekuatan dalam fisik dirinya dan kepercayaan diri terhadap siapa dia, dan keberadaan dirinya. Tetapi lingkungan tempat dia hidup mengukungnya. Apalagi, dia harus sibuk dengan seorang ibu yang terus marah, selalu terkait keadaannya dan realitanya sebagai seorang perempuan. Dan itulah sebab, tokoh yang diperankan Caitlin itu menjadi sangat tertekan. Dalam keadaan tertekan, seseorang selalu ingin lari, ingin terbebas dan membuka dirinya sebebas-bebasnya dan Caitlin saya rasa adalah salah satu diantara sedikit aktor remaja atau aktor muda yang memiliki keberanian itu. Ia memiliki prasyarat yang memungkinkannya untuk mengambil peran ini. Tidak banyak aktor muda yang kita tau sekarang di Indonesia yang masih punya sikap yang cenderung prejudice terhadap sikap terbuka pada keinginan untuk mengekspresikan diri kita secara terbuka. Itu adalah satu kenyataan di negeri ini (Indonesia). Caitlin siap menghadapi tantangan yang saya ajukan saat kami bersama-sama mengglodok tokoh (karakter Caitlin) ini.

Kenapa memilih Buncheon International Film Festival sebagai World Premiere film ini?

Buncheon itu adalah salah satu festival yang telah menjadi teman kami sejak sekian lama. Festival ini tentu saja banyak dikenal dengan film-film genre yaa. Ia merupakan fantastic film festival. Banyak sekali film-film horror dan film thriller yang di premiere dan kami mendapat tempat yang spesial di festival ini. Dia juga merupakan salah satu festival yang berfokus pada genre film dan sudah berusia cukup panjang. Jadi sebenarnya Mira Lesmana punya peran yang sangat besar pada hal ini. Tetapi kami melihat bahwa mungkin Paranoia paling bagus diuji terhadap pasarnya, diberi kemungkinan untuk mendapat ruang lebih terbuka untuk diputar di festival ini. Itu yang sebenarnya kami ingin pastikan. Sayang sekali saya tidak bisa datang ke Buncheon karena pandemi. Jadi saya tidak bisa menemani film ini dan mendengarkan komentar penonton perdana film ini. Tapi tentu saja ini menjadi sebuah kenangan di kemudian hari semoga saya bisa menonton film ini bersama penonton dimanapun juga dan merasakan sendiri respon mereka.

Bagaimana reaksi penonton di Asia, menonton film Paranoia ini?

Saya belum bisa membayangkan reaksi penonton ya. Tapi minimal kalau di Indonesia atau mugkin di negara-negara Asia ya, kondisi pandemi ini sebenarnya kondisi yang punya konsekuensi juga terhadap kesehatan mental manusia yang harus menjalaninya dan menghadapinya. Kita mendengar banyak sekali, misalnya; pernyataan bahwa terjadi laporan tentang abuse atau kekerasan fisik terhadap perempuan terjadi di masa pandemi. Kita juga mendengar banyak anak-anak muda dan remaja yang mengalami depresi yang harus tinggal di rumah untuk waktu yang begitu panjang di dalam tekanan ketakutan. Jadi mudah-mudahan film ini akan bisa menghadirkan sebuah penawar atau sebuah kanal untuk mengartikulasikan perasaan kita sebagai penonton ketika menonton film ini dan membuat kita merasa lebih baik. Itu yang saya harapkan. Mudah-mudahan penonton bisa merasa bahwa Paranoia ini merupakan bagian dari kehidupan mereka dan mereka bisa mendapatkan sesuatu dari menonton film ini.

Apakah Anda berencana untuk menulis film thriller lagi suatu saat nanti?

Tentu saja, sebenarnya saya merasa bahwa genre film itu adalah sebuah film yang sebenarnya merupakan cerita yang tepat untuk medium sinema. Karena medium sinema itu kekuatannya adalah satu elemen yang merupakan keutamaan dari medium film itu, yaitu montase atau editing. Jadi saya senang sekali ketika membuat film ini atau menulis film ini, membayangkan bagaimana editing itu adalah sebuah bahasa atau tools, atau sebuah modal yang paling kuat dalam bercerita untuk Paranoia. Saya menunggu kesempatan untuk membuatnya lagi, membuat cerita-cerita dengan genre thriller ini lagi di masa depan. Saya pikir menonton film seperti ini bisa menjadi sebuah jalan untuk membuka diri kita dari rasa takut itu. Supaya kita bisa merasa sedikit lebih nyaman terhadap kehidupan.

Bagaimana publik Asia, terutama Indonesia bisa menonton film Paranoia ini nantinya?

Okay. Tentu saja yang pertama, sekarang ini kami punya cita-cita untuk memutar film ini di beberapa festival film yang penting di dunia. Kita ingin memperkenalkan film ini lebih jauh dan mudah-mudahan bisa mendapat mitra atau partner distributor disana. Kami bisa membawa film ini lebih jauh di negara-negara lain. Itu merupakan rencana internasionalnya. Kalau di Indonesia tentu saja ada harapan dan keinginan yang besar supaya film ini bisa diputar di bioskop nantinya. Karena mudah-mudahan keadaan membaik dan bioskop akan dibuka. Karena bagaimanapun bioskop adalah tempat yang paling ideal untuk menonton film ini. Karena ada sinematografi, ada editing, ada sound design yang kuat. Saya pikir saya bekerja dengan teknisi-teknisi terbaik atau seniman-seniman terbaik, baik di depan maupun di belakang layar. Tentu saja saya ingin karya mereka dinikmati melalui layar bioskop. Let see, mudah-mudahan ketika pandemi ini sudah bisa terkendali, kita akan bisa menonton Paranoia di bioskop Indonesia.

Wawancara oleh Akbar Rafsanjani

Sumber foto: Instagram @mirles dan @milesfilms

Artikel ini tersedia dalam dua bahasa. Bahasa Indonesia dan Inggris. Untuk membaca dalam bahasa Inggris, silakan klik disini

lihat trailer filmnya di sini

Share:

0 cent worth